Sundalawas

Senin, 06 Juli 2015

Kerajaan Salakanagara


Kerajaan Salakanagara adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu-Budha yang didirikan pada tahun 130 M oleh Maharaja Dewawarman I. Berkedudukan di sekitar Gunung Pulosari, Pandeglang sebagai kelanjutan dari kekuasaan Aki Tirem sang Aki Luhur Mulia, penguasa pesisir Jawa Bagian barat pada masa itu. Kerajaan Salakanagara bukan merupakan kerajaan tertua di Jawa bagian barat karena masih ada kerajaan yang lebih tua, selain Kerajaan Salakanagara diantaranya, Kerajaan Sagara Pasir di Bekasi (Sekitar Abad 1 SM) dan Kerajaan Caringin Kurung di Gunung Salak (Sekitar tahun 400 SM).
Ibukota kerajaan ini bernama Rajatapura (artinya kota perak, sekarang berada di wilayah Teluk Lada, Pandeglang) atau dalam catatan Yunani disebut dengan sebutan Algire. Wilayah daratan yang menjadi kekuasaan Salakanagara, meliputi Jawa bagian barat dan semua pulau di sebelah barat Jawa. Sedangkan kekuasaan lautnya meliputi laut diantara pulau Jawa dan Sumatera. Setiap pesisir pantai yang menjadi kekuasaan Salakanagara dijaga oleh pasukan, sehingga perahu-perahu yang datang dari timur maupun barat harus berhenti dan membayar upeti kepada Salakanagara. Meskipun tercatat sebagai negara maritim, tapi Salakanagara juga memiliki sistem pertanian yang menggunakan cara berladang.
Pelabuhan-pelabuhan yang dimiliki Salakanagara adalah Nusa Mandala (Pulau Sangiang), Nusa Api (Krakatau), dan pesisir Sumatera bagian selatan. Semua pelabuhan tersebut dilindungi oleh pasukan kerajaan.
Untuk urusan politik kerajaan, Salakanagara kerap mengadakan hubungan diplomatik dengan Kerajaan di Cina dan Kerajaan-kerajaan di India.
Kerajaan Salakanagara merupakan leluhur Nusantara. Banyak kerajaan-kerajaan besar yang diturunkan oleh Kerajaan Ini yaitu, Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Kutai dan Kerajaan Sriwijaya. Selanjutnya Kerajaan Tarumanegara menurunkan Kerajaan besar seperti, Kerajaan Sunda-Galuh, Kerajaan Kalinga, Kerajaan Mataram Kuno, dan bahkan Kerajaan Majapahit pun yang kedudukan nya di Kali Brantas, Jawa Timur merupakan keturunan dari raja-raja Sunda.

PENGUASA JAWA BARAT SEBELUM SALAKANAGARA

Makam Aki Tirem/Sunan Jangkung/Angling Darma
(foto :www.kompasiana.com)


Sebelum datangnya Dewawarman I di pesisir Jawa Barat, wilayah Jawa bagian barat dikuasai oleh Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya. Beliau beragama nenek moyang namun ada juga yang menyebutkan beliau beragama Sunda wiwitan(hyang), Hindu bahkan Islam. Dalam agama hindu beliau terkenal dengan sebutan Angling Darma sementara dalam agama Islam lebih dikenal dengan Sunan Jangkung.
Aki Tirem mempunyai seorang putri bernama Nyi Pohaci Larasati yang nantinya dipersunting oleh Maharaja Dewawarman I, seorang duta keliling dari Kerajaan Palawa, India. Tatkala Aki Tirem sakit, sebelum wafat beliau memberi wasiat supaya kekuasaanya diserahkan kepada menantunya Dewawarman I.
Setelah itu Dewawarman I diangkat menjadi penguasa baru di wilayah Jawa bagian barat dan mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Salakanagara.

RAJA-RAJA KERAJAAN SALAKANAGARA

1. Maharaja Dewawarman I (130 – 168)
            Sebelum mendirikan kerajaan Salakanagara, beliau adalah seorang utusan dari Maharaja Palawa. Dalam menjalankan tugasnya sebagai utusan raja tersebut, beliau pernah mengunjungi kerajaan-kerajaan di Ujung Mendini, Bumi Sopala, Yawana, Syangka, Cina, dan Abasid (Mesopotamia).
Raja ini memiliki dua orang istri, yang pertama merupakan putri dari Benggala (India) dan yang kedua adalah puteri dari Aki Tirem  yang bernama Pohaci Larasati.
Setelah mendirikan Salakanagara, beliau bergelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara (selanjutnya disebut Dewawarman I). Sedangkan Pohaci Larasati (permaisurinya) bergelar Dewi Dwani Rahayu.
Dewawarman I, kerap kali harus memimpin langsung pasukannya untuk menumpas para bajak laut. Karena beliau begitu ahli dalam bertempur, maka para perompak saat itu dapat ditumpas dan enggan untuk memasuki wilayah Salakanagara.
Kemungkinan Dewawarman I pada masa kekuasaannya, membentuk sebuah kompleks candi di daerah Batujaya (Karawang). Bangunan candi-candi kecil yang semuanya berjumlah 24 buah tersebut memperlihatkan unsur bangunan agama Budha.
Dari pernikahannya yang pertama dengan putri Benggala, beliau memiliki putra yang bernama Singasagara Bhimayasawirya. Sedangkan dari pernikahannya dengan Pohaci Larasati, Dewawarman I memiliki beberapa orang anak. Anak laki-laki tertua yang bernama Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra (Dewawarman  II) menggantikan kedudukan ayahnya selaku penguasa Salakanagara.

2. Maharaja Dewawarman II (168 - 195)
            Beliau tidak memiliki putra laki-laki sebagai penerus tahta. Dari permaisurinya yang berasal dari Jawa Tengah, lahirlah seorang  putri yang bernama  Dewi Tirta Lengkara dan kemudian dinikahkan dengan seorang raja daerah Ujung Kulon yang bernama Darma Satyanagara.
           Karena aturan saat itu hanya memperbolehkan seorang putra laki-laki yang berhak menggantikan kedudukan raja, maka saat Dewawarman II turun tahta, tampuk kekuasaan diteruskan oleh saudara tirinya yaitu oleh Singasagara Bhimayasawirya (anak Dewawarman I dari seorang putri di Bengala, India).

3. Maharaja Dewawarman III (195 – 238)
            Pada saat dinobatkan menjadi raja, beliau diberi gelar Dewawarman III. Di masa kekuasaanya, para bajak laut mulai muncul kembali setelah sekian lama menghilang ditumpas oleh ayahnya (Dewawarman I). Melalui pertempuran, bajak laut yang berasal dari Cina berhasil ditumpas oleh Dewawarman III bersama pasukannya.
            Untuk urusan politik kerajaan, Dewawarman III mengadakan hubungan diplomatik dengan Kerajaan di Cina dan India.
            Kemungkinan karena tidak memiliki trah atau garis keturunan dari Aki Tirem, maka saat Dewawarman III turun tahta, tampuk kekuasaan diserahkan pada Darma Satyanagara, seorang raja daerah Ujung Kulon yang merupakan menantu dari Dewawarman II.

4. Maharaja Dewawarman  IV  (238 – 251)
            Nama asli dari raja ini yaitu Darma Satyanagara. Pada awalnya dia merupakan raja dari Kerajaan Ujung Kulon (kerajaan bawahan Salakanagara). Namun setelah beliau menikah dengan Tirta Lengkara (puteri sulung Dewawarman II), maka beliau dipercayakan sebagai penerus tahta Kerajaan Salakanagara.
            Dari pernikahannya dengan Tirta Lengkara, lahirlah seorang puteri yang bernama Mahisa Saramhardini  Warmandewi.

5. Maharaja Dewawarman  V  (251 – 276)
            Saat Dewawarman IV turun tahta, lagi-lagi Salakanagara tidak memiliki putra mahkota seorang laki-laki. Tradisi kerajaan yang mengharuskan laki-laki sebagai raja, tidak dapat terpenuhi. Untuk mengatasi keadaan ini, maka suami dari putri sulung Dewawarman  IV (Mahisa Saramhardini  Warmandewi) yang bernama Darmasatyajaya dinobatkan sebagai raja  dan diperkenankan memakai gelar Dewawarman V.
            Disamping bertindak sebagai raja, Dewawarman V memiliki jabatan lain yaitu sebagai Senapati Sarwajala (panglima angkatan laut Salakanagara). Dalam menjalankan tugasnya sebagai panglima angkatan laut, beliau gugur di saat perang menghadapi bajak laut.

6. Mahisa Suramardini  Warmamdewi (276 – 289)
            Beliau meneruskan tahta suaminya yang gugur di pertempuran, sambil menunggu putra sulungnya dewasa. Dengan demikian, sang ratu ini tercatat sebagai wanita pertama yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi di suatu kerajaan yang ada di barat Jawa.

7. Maharaja Dewawarman  VI  (289 – 308)
            Raja ini merupakan putra sulung dari pasangan Dewawarman V dan Mahisa Saramhardini  Warmandewi. Beliau memiliki nama asli yaitu Prabu Ganayanadewa Linggabumi.
            Beliau memiliki permaisuri yang berasal dari India. Dari pernikahannya itu lahir 3 orang putera dan 3 orang puteri, antara lain :
1.    Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati, kelak menjadi penerus tahta Salakanagara.
2.    Salaka Kancana Warmandewi, puteri ini menikah dengan menteri Kerajaan Gaudi (Benggala, India Timur).
3.    Kartika Candra Warmandewi, puteri ini menikah dengan raja-muda dari negeri Yawana (daerah di daratan Asia Tenggara).
4.    Gopala Jayangrana, kelak menjadi menteri di Kerajaan Calankayana (India).
5.    Sri Gandari Lengkaradewi, puteri ini menikah dengan menteri-panglima angkatan laut Kerajaan Palawa (India).
6.    Skandamuka Dewawarman Jayasastru, kelak menajadi senapati Salakanagara.

8. Maharaja Dewawarman VII  (308 – 340)
Dewawarman VII merupakan putera sulung dari Dewawarman VI. Saat penobatannya sebagai raja Salakanagara, beliau bergelar Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati.
Beliau memiliki hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Bakulapura (Kutai, Kalimantan). Kekerabatan ini berdasarkan kakak permaisuri dari Dewawarman VII menikah dengan Atwangga (raja Bakulapura). Pernikahan antara kakak ipar Dewawarman dengan raja Bakulapura itu, lahirlah Kudungga (kelak menjadi raja pertama Kerajaan Kutai). Dewawarman VII memiliki putri sulung yang bernama Spatikarnawa Warmandewi.

9.  Senopati Krodamaruta  ( 340 )
            Krodamaruta adalah anak dari Gopala Jayangrana (putra ke-4 dari Dewawarman VI yang bertugas sebagai menteri di Calankayana). Krodamaruta merebut tahta Salakanagara persis disaat Dewawarman VII wafat.
Senapati Krodamaruta tiba di ibukota Rajatapura dari Kerajaan Calankayana bersama ratusan pasukan bersenjata lengkap dan langsung mengklaim dirinya sebagai penerus kerajaan Salakanagara tanpa menghiraukan adat pergantian kekuasaan yang selama ini dijalankan. Peristiwa ini terjadi karena Krodamaruta melihat peluang ketika ahli waris tahta Salakanagara yang sah adalah seorang perempuan dan belum bersuami.
Karena sikapnya yang melanggar adat pergantian kekuasaan, Krodamaruta tidak disukai oleh keluarga keraton dan penduduk Salakanagara. Beruntunglah peristiwa yang tidak harmonis antara pemimpin dengan bawahan di Salakanagara ini tidak berlangsung lama, karena Krodamaruta tewas tertimpa batu besar yang longsor dari puncak bukit ketika sedang berburu di hutan.
Krodamaruta hanya berkuasa selama 3 bulan.

10. Spartikarnawa Warmandewi  (340 – 348)
            Untuk mengisi kekosongan kekuasan, akhirnya dengan terpaksa puteri ini mengambil alih tahta Salakanagara meskipun saat itu ia belum menikah. Beliau terkenal cantik, pintar serta bijaksana.
            Di saat kekuasaannya tepatnya pada tahun 346, ibukota Rajatapura kedatangan pengungsi dari Kerajaan Palawa karena kerajaan tersebut telah dikuasai oleh Kerajaan Samudragupta (India). Diantara para rombongan pengungsi itu terdapat bibi dari Spatikarnawa Warmandewi yang bernama Sri Gandari Lengkaradewi (puteri ke-5 dari Dewawarman VI).
            Spatikarnawa Warmandewi berkuasa hingga saat beliau menikah dengan saudara sepupunya (anak laki-laki dari Sri Gandari Lengkaradewi).

11. Maharaja  Dewawarman  VIII  (348 – 362)
            Sebelum menjadi suami dari Spatikarnawa Warmandewi, beliau merupakan panglima angkatan laut Kerajaan Palawa. Di saat dinobatkan sebagai raja Salakanagara, beliau diberi gelar Prabu Darmawirya Dewawarman.
            Pada masa kekuasaannya inilah, Salakanagara mencapai puncak keemasannya. Kehidupan penduduk makmur sentosa, dan sang raja memajukan kehidupan keagamaan. Mayoritas penduduk saat itu memeluk agama Ganapati yang memuja Ganesha. Sedangkan sisanya ada yang memuja Wisnu, Siwa, Siwa-Wisnu, dan kepercayaan asli leluhur.
            Dewawarman VIII membuat candi dan patung bagi semua penganut agama yang ada saat itu. Untuk penganut Siwa dibuatkan Siwa Mahadewa dengan hiasan bulan sabit pada kepalanya (mardhacandrakapala).  Untuk penganut Ganapati dibuatkan patung Ganesha (Ghayanadawa). Tidak ketinggalan juga patung Wisnu dia persembahkan bagi para pemujanya.
               Raja ini juga mendirikan candi di wilayah Lebak Cibedug, (sekarang termasuk Kabupaten Lebak). Konon menurut pengamatan satelit pengindraan minyak Amerika Serikat, candi ini memiliki 2 kali luas dari Candi Borobudur.( Penyusun belum menemukan bukti otentik dari keterangan ini).
            Dewawarman VIII  mempunyai  2  orang  permaisuri. Yang pertama adalah  Spatikarnawa Warmandewi yang kelak  menurunkan keturunan  menjadi raja-raja di  barat  Jawa  dan  Kalimantan.   Sedangkan  permaisuri  yang  kedua  bernama Candralocana (puteri seorang Brahmana dari Calankayana), dari permaisuri ini lahirlah keturunan yang kelak menjadi raja-raja di pulau Sumatera, Semenanjung, dan Jawa Tengah.
            Berikut ini merupakan putra-putri dari Dewawarman VIII :
1.    Iswari Tunggal Pertiwi Warmadewi (Dewi Minawati), puteri ini kelak menikah dengan Sang Maharesi Jayasingawarman (pendiri Kerajaan Tarumanagara).
2.    Aswawarman, putera ini diangkat anak sejak kecil oleh Kudungga (raja pertama Kerajaan Kutai), kemudian dijodohkan dengan puterinya dan akhirnya meneruskan kekuasaan di Kutai.
3.    Dewi Indari, kelak puteri ini menikah dengan Maharesi Santanu (Raja Kerajaan Indraprahasta yang pertama).
Putera-puterinya yang lain tinggal di Yawana dan Semenanjung. Sementara yang hijrah ke pulau Sumatera, kelak akan menurunkan keturunan raja-raja disana termasuk Sang Adityawarman (Raja Sriwijaya). Sedangkan putranya yang bungsu menjadi penerus Kerajaan Salakanagara dengan gelar Dewawarman IX.

12. Maharaja Dewawarman  IX  (362-?)
            Di masa pemerintahannya, pamor kekuasaan Salakanagara menurun drastis, hal ini bertolak belakang dengan prestasi dari ayahnya (Dewawarman VIII) yang membawa Salakanagara dalam kemakmuran. Salakanagara semakin kehilangan “gaungnya” dan akhirnya terlampaui oleh Kerajaan Tarumanagara, bahkan menjadi wilayah kekuasaan dari kerajaan baru itu.
Setelah menjadi wilayah kekuasaan Tarumanagara, riwayat raja-raja yang berkuasa di Salakanagara tidak tercatat dalam sejarah. Namun yang pasti, Salakanagara termasuk kerajaan sekutu dari Tarumanagara saat menghadapi beberapa pemberontakan di Tarumanagara.

PENINGGALAN KERAJAAN SALAKANAGARA
Situs yang menguatkan dugaan bahwa terdapat Kerajaan Salakanagara dapat kita jumpai  di Ciaruteun, daerah Cihampea, Kabupaten Bogor. Di lokasi situs banyak ditemukan umpak (penyangga tiang kayu). Setiap umpak memiliki ukuran yang cukup besar, yaitu 50 x 50 centimeter dan tinggi 75 centimeter. Di samping temuan umpak, di seputar situs juga banyak ditemukan adanya menhir, batu datar (dolmen; untuk upacara persembahyangan), batu berundak, dan lain sebagainya. Hal ini diindikasikan kepercayaan penduduk Salakanagara merupakan kepercayaan dengan budaya megalitik, yang memiliki sebuah kepercayaan yaitu menghormati roh leluhur.
Peninggalan kerajaan Salakanagara yang lainya adalah situs Cihunjuran di Gunung Pulosari, Pandeglang Banten.
 
Situs Kerajaan Salakanagara di Gunung Pulosari
(foto: coba-cobaaja2012sukses.blogspot.com)

3 komentar:

  1. jika salakanegara merupakan kerajaan Hindu/Budha lalu mengapa bukti peninggalannya berupa situs megalitikhum proto/deutro melayu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut pendapat saya, bukan kerajaan hindu/budha tapi sunda wiwitan, kepercayaan terhadap roh leluhur itu salah satu bentuknya. Dan sampai sekarang kepercayaan ini masih dianut oleh suku Baduy

      Hapus
  2. Mereka Percaya Kpd Allah dan leluhur.
    Silahkan perdalam tentang baduy dalam

    BalasHapus