Minggu, 02 Agustus 2015

Lirik Lagu Kumeli Kentang (One dee group)


Tang kumeli  kentang ngék ngék
Tur bagajis jagong gaplék
Sarkawi dagang lumut
Tumpak sapédah butut
Kadupak mobil butut
Nangkarang bari camerut

Lamun urang jamaleutik
Sing disanjing dicanleutik
Rék kadinya didilintik...didilintik...
Rék leutik eutik eutik

Lamun urang disakola
Sanajan jeung hirup susah
Tapi moal ulah-ulah... ulah-ulah...
Ngarah tempat henteu susah

(upami aya salah dina penulisan mangga dikomén baé)

Papanting (One dee group)



Papanting papanting ngalana ti peuting
Ing ter ing ter ing ter ing
Ding doing doing doing

Sibabah si nona tarumpak kukudaan
Ungkled ungkled ungkled dan
Ungked ungked ungked dan
Jungjurungkunung padugenjréng padugenjréng
Jungjurungkunung padugenjréng padugenjréng
Jungjurungkunung padugenjréng genjréng
Ha.....

Surser surser amis cau amis kumbang
Nawadah tataléotan pangirim nini panimbrang
Hileud si tataru ngambang
Tai manukan bau tai hayam
Tai manukan bau tai hayam
Ting ting papanting ting...

Panon Hideung



Panon hideung pipi konéng
Irung mancung putri Bandung
Putri saha di mana bumi na
Abdi reuseup ka anjeun na

Siang wengi ka impi-impi
Haté abdi sara redih
Teu émut dahar teu émut nginum
Émut kanu geulis panon hideung

Mengungkap Asal Usul Kyai Madrais dan Agama Sunda Wiwitan Cigugur


Oleh: Suryana Nurfatwa (Ketua Umum Gerakan Pagar Aqidah)
Sunda wiwitan adalah agama. Maka dalam pandangan Islam dia adalah kafir karena posisi agamanya itu diluar Islam. Disebut pula agama Cigugur karena lahir dan berpusat di Cigugur Kuningan. Ada hal yang perlu diungkap, apakah munculnya agama Sunda wiwitan ada kaitannya dengan seorang tokoh yang namanya Madrais atau tidak? Karena Sunda wiwitan erat kaitannya dengan Madrais, bahkan ada juga yang menyebut agama Madrais atau agama Jawa Sunda sebagaimana penjajah Belanda menyebutnya kepada kelompok Madrais ini.
Mari kita ungkap riwayat hidup Madrais yang nama lengkapnya Madrais Sadewa Alibassa Kusumah Wijaya Ningrat hidup sekitar tahun 1832 sampai 1939, Madrais sebenarnya nama pesantren yang dia dirikan di Cigugur yang sekarang menjelma menjadi Paseban, nama Madrais adalah kependekan dari Muhammad Rois. Dari berbagai informasi, Madrais masih memiliki hubungan darah dengan Kepangeranan (keraton) Gebang. Seorang putera kandung raja Gebang yang bangunan keratonnya dibumihanguskan kolonial Belanda.
Ayahnya pangeran Alibassa cucu dari pangeran Sutajaya Upas menantu pangeran Kasepuhan keturunan ke-8 dari Sunan Gunung Jati. Karena keadaan genting dikejar-kejar Belanda maka oleh ibunya, anak yang belum genap satu tahun itu kemudian diselamatkan dan disembunyikan di Cigugur supaya luput dari kejaran Belanda.
Madrais menjelma menjadi pribadi yang memiliki kepekaan rasa, kehalusan budi, kepedulian sosial, memiliki cinta yang tinggi terhadap budaya dan menjunjung tinggi kedaulatan bangsa. Madrais dewasa sangat prihatin dengan nasib bangsanya yang berada dalam cengkeraman kaum penjajah. Ia kemudian membuat semacam komunitas atau jamaah untuk selanjutnya ia didik dengan cara pandang yang memiliki kepedulian dan anti penjajahan.
Komunitas itu ia wadahi dalam satu lembaga bernama perguruan (paguron), ada juga yang menyebutnya dengan pesantren. Selama hidupnya, pangeran keturunan Kepangeranan Gebang Kinatar (sekarang lokasinya di Losari, Cirebon, Jawa Barat) itu pernah dibuang penjajah Belanda ke Tanah Merah, Maluku (1901-1908). Belanda menuduh Madrais telah menyebarkan ajaran sesat padahal Belanda khawatir dengan pengaruh Madrais yang semakin meluas dalam membangun perlawanan kepada Belanda melalui ajaran Islam yang disebarkannya. Namun tokoh ini berhasil pulang ke kampung halaman, di Cigugur, dan kembali mengajarkan Islam kepada rakyat dan mengajarkan pentingnya hidup sebagai orang yang mandiri dan mencintai sesama.
Salah satu ajaran Madrais yang popular di kalangan penganut Sunda komunitasnya adalah makan dan minumlah dari hasil keringat sendiri. Satu pesan yang menganjurkan untuk tidak mudah menerima uluran belas kasihan orang lain kecuali dari kerja keras. Orang yang tidak senang dengan Madrais, ajaran ini dipelintir sehingga berkesan tokoh ini mengharuskan para pengikutnya untuk menghisap keringat sang guru.
Madrais didalam membentuk komunitas yang diwadahi dengan pesantren, maksudnya membina masyarakat untuk mandiri dan memiliki keberanian untuk menentang penjajah dan mengajarkan Islam sebagai pokok ajarannya. Hanya strategi dia supaya kaum penjajah tidak curiga maka ajaran Islam [Qur’an dan hadits] disampaikan dalam tulisan Jawa Sunda yaitu tulisan ha, na, ca, ra, Ka dst. Sehingga komunitas Madrais disebut agama Jawa Sunda yang sekarang disebut Sunda Wiwitan. Akan tetapi, pada waktu itu ajaran Madrais adalah Tauhid hanya Allah yang wajib di sembah.
Sepeninggal Madrais tahun 1939 kominitas ini dilanjutkan dipimpin oleh putranya bernama pangeran Tedja Buana Alibassa sampai tahun 1958. Komunitas Madrais ini berubah dan dipandang sebagai aliran kepercayaan baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah, karena pangeran Tedja Buana mengajarkan Islam dengan menggunakan aksara dan bahasa Jawa-Sunda, yang dikenal sebagai agama Jawa Sunda. Hal ini merupakan kelanjutan metode Kiayi Madrais, kemudian dilanjutkan oleh Ratu Siti Djenar Alibassa puteri Raden Tedja Buana dari istri pertama karena pangeran Tedja pindah ke Cirebon.
Tahun 1964 oleh kelompok tertentu, komunitas Muslim yang mendapat julukan agama Jawa Sunda ini difitnah sebagai komunitas PKI (komunis). Dan kelompok Muslim lainnya terprovokasi dan menyerangnya. Akhirnya, komunitas keturunan Madrais ini terpecah menjadi 3. Pertama, ada yang tetap sebagai Muslim, tetapi kajiannya mengikuti Muslim lainnya yakni mengkaji Qur’an tanpa menggunakan aksara dan bahasa Jawa Sunda, karena dipandang tak usah pakai siloka lagi dalam mempelajari Islam karena sudah merdeka. Kedua, ada juga yang masuk agama Protestan dan yang terbesar masuk agama Katolik, termasuk pangeran Tedja Buana dan keturunannya karena merasa takut mendekati kelompok Muslim lainnya yang terus mengejar, dan kalau tidak beragama takut oleh negara dimasukan kelompok komunis sebagai mana isu yang berkembang. Pada saat yang bersamaan, para misionaris Katolik berhasil memanfaatkan konflik yang terjadi. Mulai saat itu, Cigugur berubah menjadi kampung Katolik, lambat laun berdiri tegak gereja dan yang masuk Katolik semakin bertambah, bahkan kawin silang antara Muslim dengan katolik sudah terbiasa, yang akhirnya anak-anaknya ada yang Muslim ada pula yang katolik.
Tahun 1970 kekuasaan Ratu Siti Djenar direbut paksa oleh Raden Djati Kusumah Alibassa, putra Raden Tedja Buana dari istri keduanya, tahun 1980. Djati Kusumah keluar dari Katolik dan mendirikan aliran bernama PACKU (Perkumpulan Aliran Cara Karuhun Urang). Tetapi, tahun 1982 dibekukan oleh KEJATI Jabar dengan SK pembekuan no.42 dan dinyatakan sebagai aliran sesat, setelah PACKU dibekukan Djati Kusumah mendirikan aliran AKUR [Aliran Karuhun Urang], dan sekarang diganti menjadi Sunda Wiwitan yang menyatakan bukan aliran tetapi agama Sunda Wiwitan.
Untuk mempertahankan pengaruhnya, maka Djati Kusumah selalu mengkaitkan dengan Madrais dan seolah alirannya tersebut adalah kelanjutan dari ajaran Madrais, sehingga kalau dulu Madrais dicitra burukan oleh Belanda sebagai pendiri dan penyebar agama Jawa Sunda,dikarenakan ajaran Islam yang disampaikan dalam tulisan dan bahasa Jawa Sunda, kalau sekarang madrais dicitra burukan oleh cucunya sendiri yang menyebutkan bahwa Madrais adalah pendiri dan penyebar agama Sunda Wiwitan, dan berkelanjutan diteruskan oleh Djati Kusumah, sehingga masyarakat Muslim terutama sangat berpandangan negatif kepada Kiayi Madrais.
Kita mendengar bahwa Sunda Wiwitan ini adalah ageman (pegangan) kepercayaan masyarakat
Baduy Kab. Lebak Banten, apakah ada kaitannya Sunda Wiwitan Djati Kusumah dengan Sunda Wiwitan masyarakat Baduy? Dahulu, pada waktu Madrais hidup di Cigugur tegak pesantren dan tegak sebuah mesjid, tetapi sekarang pesantren dan mesjid itu lenyap dan di atasnya tegak sebuah bangunan namanya Paseban. Keberadaan Paseban Tri Panca Tunggal ini menjadi penting untuk melestarikan ajaran-ajaran yang telah ditanamkan para pendahulu. Ritual-ritual penting ajaran komunitas ini berlangsung di komplek Paseban. Salah satu kegiatan tahunan yang digelar dengan cukup meriah, dan melibatkan berbagai komunitas adalah upacara Seren Taun. Perhelatan ini dilakukan setahun sekali, dalam rangka menyongsong datangnya Tahun Baru Saka dalam hitungan kalender Jawa-Sunda. Motivasi pagelaran ini adalah mensyukuri nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita semua. Di event ini, sebagian masyarakat Cigugur bergotong- royong membawa hasil bumi mereka untuk diarak dalam satu episode pawai yang meriah. Di komplek gedung Paseban TPT, juga tinggal para penganut ajaran Sunda Wiwitan yang terdiri dari remaja, dewasa hingga orang tua. Mereka biasa disebut sebagai warga atau sawarga, yang berarti keluarga. Ini merupakan ekspresi dari pemahaman ajaran yang mereka yakini: setiap manusia bersaudara. Mereka yang tinggal di Paseban menjadi satu kesatuan dalam keluarga. Di sinipun dibangun sekolah menengah pertama (SMP) Trimulya sejak tahun 1958, sebagai tempat belajar warga Paseban TPT, yang juga dibuka umum.
Para penganut ajaran Sunda Wiwitan tersebar di beberapa kota, dan kabupaten di Jawa Barat, dan tidak menutup kemungkinan juga di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta D.I. Yogyakarta. Namun kegiatan ritual budaya dan keagamaan komunitas ini berpusat di Cigugur. Gedung Paseban Tri Panca Tunggal (TPT), semacam keraton yang berfungsi sebagai sentra kegiatan keagamaan, budaya, hingga berfungsi sebagai tempat belajar dalam menjalani kehidupan. Di gedung Paseban tinggal keluarga keturunan Madrais yang sekaligus menjadi pimpinan warga adat. Pangeran Jatikusuma adalah ketua warga adat pimpinan agama Sunda Wiwitan saat ini.
Agama Sunda Wiwitan Cigugur (atau boleh disebut Sunda Wiwitan ecek ecek/Sunda Wiwitan Palsu) yang sekarang dipimpin Pangeran Jati Kusumah sangat jauh sekali dari ajaran Karuhun Sunda yang pada keasliannya sangat mendekati ajaran Agama Islam. Bahkan Agama Sunda Wiwitan Asli atau yang lebih dikenal dengan Agama Hyang, seperti Keturunan Kebataraan Galunggung, Sumedang Larang, Panjalu, dsb. Mereka berpindah kepada ajaran Agama Islam setelah mengetahui bahwa ajaran Karuhun Sunda itu mewariskan amanat supaya orang Sunda harus mencari ilmu yang bernama  Mustikalana yang berguna untuk keselamatan semua manusia hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dan Ilmu yang dapat menyelamatkan manusia di Dunia dan di Akhirat adalah tidak lain dan tidak bukan adalah Ajaran Islam yang suci, yang menyempurnakan ajaran agama Hyang.
Maka dari itu kami selaku keturunan Hyang-Sunda dari Sumedang mengajak para pengikut Sunda Wiwitan serta Pengikut Katolik dan Protestan di Cigugur, Kuningan untuk kembali lagi kepada ajaran Karuhun Sunda yang sebenarnya (Sunda Wiwitan yang Asli). Yaitu kembali lagi kepada ajaran Islam yang diajarkan oleh leluhur kalian sendiri yakni, ajaran Islam yang disebarkan oleh Kyai Madrais yang berpegang teguh kepada Al-Quran dan As Sunnah. Dan mari kembalikan paseban untuk kembali menjadi pesantren dan mesjid dan tegaknya syi’ar Islam di Cigugur, yang sekarang dikuasai agama Sunda Wiwitan palsu  dan Katolik.

“Tong ngaku Urang Sunda lamun teu nganggem agama Islam, Sabab agama Islam mangrupa élmu titinggal karuhun Sunda”

Sumber : voa-islam.com, dan dokumen pribadi

Lirik Lagu Sunda Lawas Gunung Tangkuban Parahu


(Foto Gunung Tangkuban Perahu:oleh yudi)

Gunung Tangkuban Parahu
Matak waas nu ningali
Matak welas anu asih
Sasakala jaman baheula

Lamu urang ka Tangkuban
Loba pisan pamandangan
Kawahna ngajajar loba
Hawa tiis nyerepkeun pikir

Gunung ngariung
Sisi Tangkuban
Riung mungpulung
Éndahna Gunung Tangkuban

Lamun urang nyawang Tangkuban
Héjo lémbok rimbung subur
Kembang ligar mawa cahya
Cahya béntang baranang siang

Galah ginder (One dee group)



Galah Ginder Galah Ginder
Ari der ndut ndut tan
Clo kapangajlogan
Clé kapangajlegan

Galah Ginder Galah Ginder
Adelerder ndut ndut tan
Clo kapangajlogan
Clé kapangajlegan

Kang bong bong Kang géng géng
Toli-toli masmarino
Kang bong bong Kang géng géng
Toli-toli masmarino
Toli-toli masmarino...

Plang tilingtimplang bulé
Sarkawi Lonyod bénjol
Boga rupa siga embé
Karesep nyonyoo kohkol

Tang kumeli kentang ngék ngék
Sarkawi dagang céngék
Ka dupak mobil bongék
Nangkarak bari méwék

Plang tiling timplang bulé
Sarkawi Lojod benjol
Boga rupa siga embé
Karesep nyonyoo kohkol
Karesep nyonyoo botol
Karesep nyonyoo bastol
Karesep nyonyoo Péstol..péstol