Minggu, 17 April 2016

Kerajaan Medangkahyangan

Tahun Berdiri : 252 M
Masa : 252-290 M
Pusat Kerajaan : Gunung Tampomas, Sumedang
Raja Pertama : Keturunan Raja Salakanagara ke 5
Raja Terkenal : ?
Jumlah Raja : ?
Agama Kerajaan : Hindu

Gunung Tampomas lokasi Kerajaan Kuno Medang Kahyangan
(foto:indonesiaituindah.net)

Kerajaan Medang Kahyangan adalah salah satu kerajaan kuno yang ada di Tatar Sunda. Didirikan sekitar tahun 174 saka atau sekitar tahun 252 M di kaki Gunung Tampoomas (Tampomas) yakni terletak diantara Kecamatan Congeang dan KecamatanBuah Dua, Sumedang. Kerajaan tersebut didirikan oleh seorang resi keturunan raja Salakanagara ke lima.
Dalam Carita Parahiyangan dan catatan Bujangga Manik bahwa sekitar kaki Gunung Tompo Omas (Tampomas) terdapat sebuah Kerajaan bernama Medang Kahiyangan (252-290 M), dan menurut catatan Bujangga Manik juga bahwa posisi Sumedang Larang berada di Cipameungpeuk, dilihat dari posisi Sumedang Larang (998 – 1114 M) bahwa yang memegang kekuasaan waktu itu adalah Prabu Pagulingan. Dilihat dari masa kedua kerajaan tersebut sangat berjauhan dan tidak ada hubungan sama sekali, berdasarkan penyelusuran penyusun bahwa keturunan dari Medang Kahiyangan merupakan keturunan Raja Salakanagara ke 5 dari Prabu Dharma Satya Jaya Waruna Dewawarman menantu Dewawarman IV, sedangkan menurunkan keturunan Sumedang Larang berasal Manikmaya Kerajaan Kendan menantu Suryawarman raja Tarumanagara ke 7 yang kemudian juga menurunkan raja-raja Galuh dan Sunda.
Namun sayangnya sumber sejarah Kerajaan Medangkahyangan tidak banyak diceritakan dalam carita Parhyangan maupun dari sumber-sumber kuno lainnya yang ada di tatar Sunda.
Peninggalan kerajaan ini tersebar disekitar Gunung Tampomas, yakni berupa makam-makam kuno, punden, lingga, dan arca. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Yayasan Padaringan berhasil menemukan sejumlah benda purbakala, mualai dari area puncak hingga kaki belahan timur Gunung Tampomas. Lokasi bersejarah tersebut yaitu, Blok Ciputrawangi, Lewueng Candi, Puncak Narimbang, Batulawang, Kabuyutan, Sawah Kalapa, Puncak Manik, dan Cibanteng. Kerajaan Kuno ini harus kembali diteliti lebih mendalam, mengingat banyaknya peninggalan kepurbakalaan yang berkaitan erat dengan kerajaan ini.
Penemuan Fragmen arca yang ditemukan di Blok Leuweung Candi, lereng timur Gunung Tampomas. Diperkirakan arca tersebut berasal dari abad 3 Masehi. (gambar:arkeologisunda.blogspot.co.id)


Sumber : Museumprabugeusanulun.org, arkeologisunda.blogspot.co.id, www.mail-archive.com (Kisunda)

Rabu, 13 April 2016

Rajah dina Novel Roman Sejarah “Wastu Kancana” karya Drs. Yoséph Iskandar

Rajah Pamunah dina bubuka
 
Pun Sapun!
Ka Gusti Nu Maha Suci
Ka Rumuhun ka Karuhun
Ka sakumna Lelembutan
Nu narindak teu narapak
Nu nyowara tan rupana
Amit kami seja mipit
Amit kula seja ngala
Carita mangsa bihari
Laratan Pasundan Bubat
Nu ngamalir dina getih
Ngamuara dina rasa
Ngadangdiang dina sukma
Méméh ngajamparing ati
Kapentang kapanah bayah
Pangrajahkeun pangmunahkeun
Muga jembar na panalar
Paralun!

Rajah Panutup

Pun Sapun Awignam Astu
Ka Ratu Hyang Prabu Wastu
Ludeungkeun kami ngagurit
Prasasti dina prasasti
Kawali implengan diri
Clik putih clak hérang caang
Hampura mun kurang padang
Sakadugana sakatepina
Pun Sapun, ampun paralun!

Paralun ka para Karuhun
Hampura nyanggi carita
Bisi ipis gurit amit
Bisi atah nya pangrajah
Kami seja ménta ampun
Muga jembar pangampura
Dina lebah teu kaaji
Dina tujul teu ka ajul
Paralun ampun paralun

Paralun ka Hyang Ruuhun
Hampura medar lalakon
Bisi leuwih pangneukteukeun
Bisi kurang pangnambahkeun
Muga surti panalarna
Dina sajatining Sunda
Dina cikawening ati
Paralun ampun paralun!


~Drs. Yoséph Iskandar 9 Agustus 1987~
dina bukuna "Wastu Kancana"

Daftar Kerajaan Bawahan Kerajaan Tarumanegara


Kerajaan-Kerajaan ini merupakan bawahan Kerajaan Tarumanegara sepeninggal Maharaja Purnawarman raja Tarumanagara ke-3 yang berkuasa antara tahun 395 sampai 434 Masehi. Kerajaan-kerajaan ini umumnya berdiri sekitar abad pertama sampai abad ke 4 Masehi. Berikut 44 kerajaan bawahan Tarumanegara:

1. Kerajaan Salakanagara, berpusat di Pandeglang. Dulunya kerajaan ini merupakan kerajaan merdeka, namun pada tahun 362 kerajaan ini menjadi bawahan Tarumanegara.

2. Kerajaan Cupunagara, berpusat di tepi Sungan Cupunagara, Subang.

3. Kerajaan Nusa Sabay
4. Kerajaan Purwanagara
5. Kerajaan Hujung Kulon, berpusat di Ujung Kulon, Pandeglang. Pernah menjadi Bawahan Kerajaan Salakangara.
6. Kerajaan Gunung Kidul
7. Kerajaan Purwalingga, berpusat di Purbalingga, Jawa Tengah
8. Kerajaan Agrabinta, berpusat di Cianjur Selatan, pernah menjadi bawahan Kerajaan Salakanagara
9. Kerajaan Sabara
10. Kerajaan Bumisagandu
11. Kerajaan Paladu
12. Kerajaan Kosala
13. Kerajaan Legon, berpusat sekitar Cilegon, Banten
14. Kerajaan Indraprahasta, berpusat di Kaki Gunung Indrakila (Gunug Ceremai), Cirebon
15. Kerajaan Manukrawa, berpusat di Muara Cimanuk, Indramayu
16. Kerajaan Malabar, berpusat di Bandung Selatan
17. Kerajaan Sindang Jero
18. Kerajaan Purwakerta
19. Kerajaan Wanagiri, berpusat di sekitar Cirebon
20. Kerajaan Purwa Galuh (Galuh Wetan)
21. Kerajaan Cangkuang, berpusat sekitar Garut
22. Kerajaan Sagarakidul
23. Kerajaan Kubang Giri (Gunuhng Kubang)
24. Kerajaan Gunung Cupu
25. Kerajaan Alengka
26. Kerajaan Manikparwata (Gunung Manik)
27. Kerajaan Karang Sindulang
28. Kerajaan Bitunggiri (Gunung Bitung)
29. Kerajaan Tanjung Kalapa
30. Kerajaan Pakuan Sumurwangi
31. Kerajaan Kalapagirang
32. Kerajaan Sagarapasir, berpusat di Bekasi merupakan kerajaan kuno yang berdiri sekitar abad 1 sebelum masehi (SM).
33. Kerajaan Rangkas, berpusat di Karawang
34. Kerajaan Puradalem
35. Kerajaan Linggadewata
36. Kerajaan Tanjung Camara
37. Kerajaan Wanadatar
38. Kerajaan Setyaraja
39. Kerajaan Jati Ageung
40. Kerajaan Wanajati
41. Kerajaan Duakalapa
42. Kerajaan Pasir Muhara
43. Kerajaan Pasir Sangarung
44. Kerajaan Indihiyang, berpusat disekiar Tasikmalaya
 


Minggu, 31 Januari 2016

Kerajaan Jampang Manggung

Nama Kerajaan : Jampang Manggung
Tahun Berdiri : Abad 2 M
Pendiri : Aki Sugiwanca (adik Aki Tirem Sang Aki Luhur Mulya)
Lokasi Kerajaan : Kaki Gunung Manenggel, Cianjur
Corak Agama : Hyang/Sunda Wiwitan, Hindu

Kerajaan Jampang Manggung adalah salah satu kerajaan kuno di Nusantara yang berdiri pada abad ke 2 M di Kaki Gunung Manenggel, Cianjur. Pendiri kerajaan Jampang Manggung adalah Aki Sugiwanca yang tiada lain adalah adik Aki Tirem sang Aki Luhur Mulya penguasa Jawa bagian barat pada saat itu. Salah satu peninggalan kerajaan Jampang Manggung adalah batu Sanghyang tapak dan beberapa makam kuno yang tersebar di kaki Gunung Manenggel.
Batu Sanghyang Tapak peninggalan Kerajaan Jampang Manggung
(Foto:Hendi Jo/Historia.co.id)

Kerajaan Jampang Manggung versi Sanghyang Boros Ngora

Versi Sejarah ini berkaitan dengan Kerajaan Panjalu, Ciamis.
Menurut versi Sejarah Cianjur, Sanghyang Borosngora dikenal di Tanah Jampang sebagai Prabu Jampang Manggung, Syeikh Dalem Haji Sepuh, Syeikh Haji Mulya, Syeikh Haji Sholeh, dan Syeikh Aulia Mantili. Nama aslinya adalah Pangeran Sanghyang Borosngora, ia putera kedua Adipati Singacala (Panjalu) yang bernama Prabu Cakradewa. Prabu Cakradewa sendiri adalah putera Sedang Larang, Sedang Larang adalah putera Ratu Prapa Selawati.
Sanghyang Borosngora adalah putera Prabu Cakradewa dari permaisuri yang bernama Ratu Sari Permanadewi. Ratu Sari Permanadewi adalah putera keenam dari Adipati Wanaperi Sang Aria Kikis, jadi Sanghyang Borosngora adalah saudara misan Dalem Cikundul. Sanghyang Borosngora mempunyai empat orang saudara dan pada usia 14 tahun ia diperintah sang ayah untuk berziarah ke tanah suci Mekkah. Pada bulan Safar 1101 H Sanghyang Borosngora berangkat ke Mekkah yang lama perjalanannya adalah 6 tahun.
Sepulang dari tanah suci, Sanghyang Borosngora mendapat julukan Syeikh Haji Sampulur Sauma Dipa Ulama. Tiba di kampung halamannya Kerajaan Singacala, sang ayah ternyata telah meninggal dunia. Borosngora kemudian berniat menurunkan ilmunya dan menyampaikan ajaran Islam kepada rakyat Pajajaran Girang dan Pajajaran Tengah, karena itu Borosngora mengembara ke nagari Sancang dan tanah Jampang. Pada hitungan windu pertama, Sanghyang Borosngora melakukan perjalanan kunjungan ke tanah leluhurnya di Karantenan Gunung Sawal, nagari Sancang, Parakan Tilu, Kandangwesi, Gunung Wayang, Gunung Kendan (Galuh Wiwitan), Dayeuhkolot (Sagalaherang), nagari Wanayasa Razamantri, Bayabang (menemui Kyai Nagasasra), Paringgalaya (sekarang sudah terbenam oleh Waduk Jatiluhur) dan kemudian kembali ke Gunung Wayang.
Pada windu kedua ia berangkat ke Jampang Wetan, Gunung Patuha, Gunung Pucung Pugur, Pasir Bentang, Gunung Masigit, Pager Ruyung, Pagelarang, Jampang Tengah, Curug Supit, Cihonje, Teluk Ratu, Gunung Sunda, Cipanegah, Cicatih kemudian mengunjungi Salaka Domas di Sela Kancana, Cipanengah, Cimandiri. Windu ketiga Sanghyang Borosngora pergi ke Jampang Tengah mendirikan padepokan di Hulu Sungai Cikaso, Taman Mayang Sari (kuta jero), Jampang Kulon. Di tempat ini ia dikenal dengan nama Haji Soleh dan Haji Mulya. Setelah itu ia kembali ke Cipanengah, Gunung Rompang, di tempat ini ia dikenal sebagai Syeikh Haji Dalem Sepuh.
Sanghyang Borosngora menikahi seorang gadis yatim, cucu angkat Kanjeng Kiai Cinta Linuwih di Gunung Wayang. Gadis yatim ini adalah turunan langsung Senapati Amuk Murugul Sura Wijaya, Mantri Agung Mareja, wakil Sri Maharaja Pajajaran untuk wilayah Cirebon Girang dan Tengah. Pada windu ketiga, ia memiliki dua orang putra yaitu Hariang Sancang Kuning dan Pangeran Hariang Kancana. Sanghyang Borosngora hidup sampai usia lanjut, ia wafat setelah dari Gunung Rompang serta dimakamkan di suatu tempat di tepi Sungai Cileleuy, Kp Langkob, Desa Ciambar, Kecamatan Nagrak, Sukabumi. 
Putra cikalnya yaitu Hariang Sancang Kuning melakukan napak tilas perjalanan mendiang ayahnya ke Pajajaran Girang dan Tengah, kemudian ke Singacala (Panjalu). Ia wafat dan dimakamkan di Cibungur, selatan Panjalu. Salah seorang keturunannya yang terkenal adalah Raden Alit atau Haji Prawata Sari yang gigih menentang penjajah Belanda. Ia dikenal sebagai pemberontak yang sangat ditakuti berjuluk "Karaman Jawa". Sedangkan adik Sancang Kuning yakni Pangeran Hariang Kancana menjadi Adipati Singacala kemudian hijrah ke Panjalu, setelah wafat ia dimakamkan di Giri Wanakusumah, Situ Panjalu.(dari wikipedia.org).
Kerajaan Jampang Manggung masih menyimpan misteri panjang yang butuh penelitian para sejarawan dan arkeolog.
Tradisi peninggalan Kerajaan Jampang Manggung yang dilestarikan kembali.

Minggu, 02 Agustus 2015

Kerajaan Indraprahasta

Nama Kerajaan           : Indraprahasta
Pendiri                         : Maharesi Santanu
Raja Terkenal              : Maharaja Wiryabanyu
Tahun Berdiri               : 363-723 M (360 tahun)
Raja yang berkuasa     : 14 raja
Agama Kerajaan         : Hindu
Agama Penduduk        : Hindu, Budha, Hyang
Pusat Kerajaan            : Cirebon

Kerajaan Indraparahasta adalah sebuah kerajaan bercorak hindu yang berkedudukan di Cirebon Girang atau Cirebon Selatan, Kabupaten Cireon sekarang. Kerajaan tersebut didirikan pada tahun 363 Masehi oleh Sang Maharesi Santanu, seorang maharesi dari Kali Gangga India.
Kerajaan Ini sempat menjadi kerajaan besar pada saat kekuasaan Maharesi Santanu seiring dengan melemahnya pamor Kerajaan Salakanagara. Namun pada tahun 399 Masehi kerajaan Indraprahasta harus mengakui kekuasaan Sri Maharaja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Sejak saat itu lah kerajaan Indraprahasta menjadi bawahan dari Kerajaan tarumanegara.

Raja-raja Kerajaan indraprahasta

1. Resi Santanu (363-398 M)
Seperti halnya Sang Maharesi Jayasingawarman pendiri Tarumanegara, Sang Maharesi Santanu beserta para pengikutnya meninggalkan negeri asalnya untuk menyelamatkan diri dari serangan Kerajaan Samudera Gupta Maurya. Sebelum mendarat di Jawa Barat, Maharesi Santanu terlebih dahulu singgah di Srilangka dan Benggala. Ketika Maharesi Santanu mendarat di Jawa Barat saat itu Jawa Barat berada dalam kekuasaan Kerajaan Salakanagara yang dipimpin oleh Maharaja Prabu Darmawirya Dewawarman VIII.
Sang Maharesi Sentanu menjadi Raja pertama Lerajaan Indraprahasata (363-398 M) dengan gelar Praburesi Indraswara Sakala Kretabuwana.
Sang Maharesi Santanu menikah dengan Dewi Indari, putri dari Prabu Darmawirya dewawarman VIII. Karena pernikahan tersebut, Sang Maharesi Santanu mempunyai pertalian kekeluargaan dengan Maharaja Deawawrman VIII. Dan saat itu Maharesi Santani diizinkan mendirikan desa diwilayah kerajaan Salakanagara.
Sang Maharesi Santanu membangunsebuah desa di tepi Kali Cirebon, yang diberi nama Indraprahasta. Gunung Ceremai, yang berdiri di dekat negerinya diberi nama Gunung Indrakila, dan Kali Cirebon yang melewati daerahnya diberi nama Kali Gangganadi.
Di bagian alur sungai sang diperlebar dan diperdalam sehingga mirip danau, dinamakan penduduk setempat sebagai setu Gangga (danau Gangga). Ditempat itu lah diadalakan upacara mandi suci, seperti kebviasaan di daerah asal sang Maharesi Santanu, lembah Sungai Gaganga, India. Reduplikasi Semacam itu merupakan suatu pengabdian untuk mengenang tanah kelahirannya.
2. Prabu Jayasatyanagara (398-421 M)
Raja Kerajaan Indra Prahasta selanjutnya adalah Jayasatyanagara, putra sulung Maharesi Santanu dari permaisuri Dewi Indari. Pada Tahun 399 Masehi, Jayasatyanagara harus mengakui kekuatan Maharaja Purnawarman dari Tarumanegara. Sejak itulah indraprahasta menjadi bawahan Tarumanegara.
Permaisuri Jayasatyanagara bernama Ratna Manik puteri Sang Wisnu Bhumi, aja Kerajaan Malabar, di Kaki Gunung Malabar, Bandung, selatan. Dari permaisurinya, Jayasatya nagaramemperoleh putra bernama Wiryabanyu.
3. Prabu Wiryabanyu (421-444 M)
Penguasa ke tiga Kerajaan Indraprahasata adalah Sang Maharaja Wiryabanyu, putera Jayasatyanagara dari permaisurinya Ratna Manik. Sang Wiryabanyu merupakan seorang pahlawan yang menumpas pemberontakan Sang Mahamantri Cakrawarman di zaman pemerintahan Sri Maharaja Wisnuwarman, yang terjadi di Tarumanegara pada tahun 437 M.
Permaisuri Maharaja Wiryabanyu adalah Nilem Sari, puteri raja Kerajaan Manukrawa yang berkedudukan di Indramayu dan kemudian memiliki seorang putri bernama Saklawati dan dijadikan permaisuri oleh Maharaja Wisnuwarman, Raja tarumanegara keempat.
4. Prabu Warma Dewaji (444-471 M)
Beliau merupakan putra dari Wiryabanyu dan menjadi pengfuasa ke empat Indraprahasta.
5. Prabu Raksahariwangsa (471-507 M)
Penguasa kelima Indraprahasta adalah putera Warma Dewaji yaitu Raksa Hariwangsa dengan nobat Abhiseka Prabu Raksahariwangsa Jayabhuana. Permaisuri Sang Raksahariwangsa adalah Dewi Rasmi puteri raja Kerajaan Sangarung dan memiliki puteri yang bernama Dewi Rasmi. Dewi Rasmi kemudian dipersunting oleh Tirtamanggala putera ke dua Raja Kerajaan Aghrabinta.
6. Prabu Tirtamanggala (507-526 M)
Penguasa Indraprahasta ke enam adalah menantu dari Sang Raksahariwangsa yakni Tirtamanggala. Tirtamanggala bersama permaisurinya Dewi Rasmi memerintah sampai 526 Masehi. Beliau dikaruniai dua putera, yakni Astadewa dan Jayagranagara.
7. Prabu Astadewa (526-540 M)
Penguasa selanjutnya adalah Astadewa putera pertama dari Prabu tirtamanggala. Beliau mempunyai putra bernama Rajaresi Padmayasa.
8. Prabu Jayagranagara (540-546 M)
Penguasa kedelapan adalah Jayagranagara adiknya Astadewa. Beliau menjadi raja sementara menunggu Rajaresi Padmayasa yang belum cukup umur untuk memegang tampuk pemerintahan.
9. Prabu Padmayasa (546-590 M)
10. Prabu Andabuwana (590-636 M)
11. Prabu Wisnumurti (636-661 M)
Penguasa selanjutnya adalah Wisnumurti. Beliau dikaruniai satu orang puteri dan satu orang putera. Yang putri bernama Dewi ganggasari yang diperistri oleh Maharaja Linggawarman, raja Kerajaan Tariumanegara ke 12. Sedangkan yang putera yang bernama Tunggulnagara diangkat menjadi penguasa Indreaprahasta ke 12.
12. Prabu Tunggulnagara (661-707 M)
13. Resi Guru Padmahariwangsa (707-719 M)
Penguasa ke 13 adalah Resi Guru Padmahariwangsa, beliau dikaruniai dua orang puteri dan satu orang putera. Yang pertama Citrakirana, beliau dipersunting oleh Purbasora. Yang Kedua, yakni Wiratara melanjutkan tahta kekuasaan Indraprahasta. Dan yang ke tiga Ganggakirana diperistri oleh Adipati Kosala dari Kerajaan Wanagiri, Bawahan Idraprahasta.
14. Prabu Wiratara (719-723 M)
Penguasa ke empatbelas dan terakhir Indraprahasta adalah sang Wiratara. Prabu Wiratara beserta Seluruh pihak Kerajaan Indraprahasta dibinasakan oleh Sang Sanjaya karena ikut membantu pemberontakan Sang Purbasora merebut kekuasaan Kerajaan Galuh dari Prabu Senna.

Kehancuran

Indraprahasta ketika itu berada diposisi Purbasora, mengingat Purbasora menantu dari padma hariwangsa, raja Indraprahasta ke 13, karena Purbasora menikahi menikahi Citrakirana, adik dari Wiratara yang kelak menjadi menjadi raja Kerajaan Indraprahasta.
Purbasora hampir sama mengikuti cara-cara yang digunakan Wisnuwarman (Taruma) yang menggunakan pasukan Indraprahasta sebagai bayangkara yang langsung dibawah kontrol Patih Balangantrang. Konon pasukan inilah yang memporak porandakan kekuatan Sena, hingga Sena pun terpaksa melarikan diri ke Kalingga.
Kekuatan pasukan Indraprhasta pun terbaca oleh Sanjaya, anak dari Sena yang kemudian menjadi Raja Yang di Pertuan di Pulau Jawa. Hingga suatu ketika pada saat Senjaya menuntut balas, pasukan Sunda dikerahkan untuk menggembur pasukan Indraprahasta dan negaranya ikut dibumi hanguskan, berikut Wiratara, ketika itu raja Indrapahasta.
Peristiwa ini diabadikan dalam Nusantara III/2, intinya menggambarkan, bahwa :
“Ikang rajya Indraprahasta wus
sirna dening Rahyang Sanjaya
mapan kasoran yuddha nira. Rajya
Indraprahasta kebehan nira
kaprajaya sapinasuk kadatwan
syuhdrawa pinaka tan hana rajya
manih i mandala Carbon Ghirang.
Wadyanbala, sang pameget,
nanawidhakara janapada, manguri,
sang pinadika, meh sakweh ira
pejah nirawaceca. Kawalya pirang
siki lumayu humot ring wana, giri,
iwah, luputa sakeng satrwikang
tan hana karunya budhi pinaka
satwakura.”
Artinya : Kerajaan Indraprahasta itu telah musnah oleh Rahyang Sanjaya karena kalah perangnya. Seluruh Kerajaan Indraprahasta ditundukan termasuk keratonya hancur lumat seakan-akan tidak ada lagi kerajaan didaerah Cirebon Girang. Angkatan perang, pembesar kerajaan, seluruh golongan penduduk, penghuni istana, para terkemuka, hampir seluruhnya binasa tanpa sisa. Hanya beberapa orang yang berhasil melarikan diri bersembunyi di hutan, gunung dan sungai yang terluput dari musuh yang tidak mengenal belas kasihan seperti binatang buas.
Biar bagaimanapun Indraprahasta masih memiliki kerabat di negara lainnya. Mungkin alasan politis inilah kemudian Senjaya menyerahkan Indraprahasta kepada menantu Padmahariwangsa, raja Indraprahasta ke-13, yakni Adipati Kusala raja Wanagiri, suami dari Gangga Kirana. Kerajaan Wanagiri kemudian menggantikan Indraprahasta dan berada dibawah kekuasaan Galuh. Kemudian pada abad kelima belas praktis Wanagiri menjadi Kerajaan Cirebon Girang, saat ini hanya berbekas sebuah desa dengan nama Cirebon Gir

Lirik Lagu Yaumal Kiyamat (One dee group)





Trong Kohkol andika anggur morongkol
Dur bedug andika anggur murungkut
Diadanan beuki tibra
Pajar manéh teu ngélingan
Heunteu ngélingan ...

Dasar jelema doraka kudu asup kanaraka
Aduh ...
Aduh indung aduh bapa kutan téh kieu rasana
Kieu rasana ...
Jadi jeleuma doraka
Kudu asup ka naraka
Teungteuingeun anu mukmin
Di dunya henteu ngélingan
Heunteu ngélingan ...